Cerita Pak Mustofa


a: "saya sudah memulung selama tujuh tahun."
b: "lha..bapak ngak bosan?"
a: "yah..kali ini karena dipaksa keadaan mas."

begitulah kira-kira secuplik percakapan dengan pak Mustofa, seorang pemulung.
                Kegiatan yang diadakan oleh komisi misi dalam rangka berbagi kasih di Jogja membawa saya bersama teman saya, pada sebuah percakapan yang cukup dalam.
                Bapak ini bercerita bahwa ia berasal dari Malang dan sudah kerja sebagai pemulung di Jogja selama 7 tahun, waktu yang cukup lama menurut saya. Selama tujuh tahun itu juga ia berpindah-pindah tempat tinggal. Saat ini pak Mustofa tinggal dibawah jembatan layang Janti, Yogyakarta. Beberapa tahun sebelumnya ia pernah tinggal di daerah terban, kemudian ia digusur dan berpindah ke daerah Tambak bayan, sebrang hotel Jayakarta, namun digusur lagi.
heeh...Betapa susahnya orang "susah" mencari tempat tinggal.
                Idealisme yang membentuknya sejak muda, mengenai pekerjaan yang harus jelas jenjang karirnya, sehingga ia dapat mengembangkan diri lebih baik lagi untuk dapat bekerja di posisi lebih tinggi lagi, menjadikan ia anak muda yang penuh ambisi (saat itu...). Itulah sebabnya jika ia bekerja dan dalam satu atau dua tahun  dirasa tidak ada kemajuan, ia akan merasa bosan dan segera keluar dari pekerjaan itu.
                Pak Mustofa pernah bekerja sebagai tenaga buruh disebuah site pertambangan di Kalimantan. Ia bercerita bahwa dirinya mudah bosan jika bertemu dengan pekerjaan yang menurutnya tidak membawa pada jenjang yang lebih tinggi ke depannya, sehingga tidak lama ia bekerja di tempat itu. Ia juga pernah bekerja di sebuah bengkel mobil milik kakaknya, namun merasa tidak berkembang dan tidak didukung oleh kakaknya, ia keluar dan berhenti. Setelah itu ia berganti-ganti pekerjaan hingga saat ini bekerja sebagai pemulung. Idealisme ia bangun sejak muda juga hancur begitu saja. Impiannya mengenai jenjang karir yang selalu naik dan baik hilang dikarenakan kondisi ekonominya sekarang. Biasanya dalam dua tahun ia akan bosan pada pekerjaan tertentu dan keluar jika tidak ada kemajuan, namun pekerjaan sebagai pemulung sudah ia jalani selama tujuh tahun.
Pak Mustofa      : "saya sudah memulung selama tujuh tahun."
Saya                       : "lha..bapak ngak bosan?"
Pak Mustofa      : "yah..kali ini karena dipaksa keadaan mas."

Pak Mustofa      : "pekerjaan apapun yang penting halal."
                Pak Mustofa juga bercerita bahwa ia dulu pernah punya keluarga (anak dan istri), namun pada akhirnya bercerai. Menurut cerita pak Mustofa, ia bercerai karena masalah ekonomi. Dia mengatakan bahwa mertuanya merasa malu memiliki menantu yang miskin, dan hanya bekerja serabutan tak jelas. Tekanan yang begitu besar datang juga dari istrinya karena istrinya merasa pak Mustofa tidak bertanggung jawab akan keluarganya. Ia bercerita bahwa ia sudah berusaha bertanggung jawab semaksimal mungkin, sampai-sampai rumah pun ia jual untuk memberi makan anak-istri. Hal ini membuat ia semakin dimusuhi oleh keluarga besarnya. Berbagai macam tekanan hidup yang datang membuatnya melarikan diri dari tanggungjawabnya sebagai kepala keluarga dan menggelandang sebagai pemulung di Jogja. Inilah kenapa ia sekarang memulung di Jogja.
Ia juga pernah masuk penjara.
saya                       : "ngak coba pulang dan bertemu keluarga lagi pak?"
Pak Mustofa      : "ngak, mereka udah ngak peduli, saya masuk penjara aja ngak ada yang nyari."
saya                       : "mungkin mereka peduli pak sekarang?"
Pak Mustofa      : "saya udah ngak peduli."
saya                       : "..."
                Disini saya mencoba untuk melihat lebih dalam lagi, bahwa begitu kuatnya pengaruh uang dan materi lainnya. Materi (harta) dapat merusak janji pernikahan "tetap setia baik senang maupun susah hingga maut memisahkan." Kegilaan akan harta juga benar-benar merusak hubungan keluarga yang seharusnya sudah saling mengerti dan saling mendukung.
                Disini saya jadi teringat kisah Ayub dimana ia menjadi sangat miskin dan sengsara dalam sekejap. Tidak hanya kehilangan harta, tapi kehilangan keluarga juga dan juga nyaris ia kehilangan kepercayaannya pada Tuhan. Pada akhirnya Ayub dapat tetap bertahan setia pada Tuhan dan semua hal yang telah hilang dari Ayub diberikan oleh Tuhan, bahkan berlebih.
                Materi, uang atau harta sangat mungkin untuk hilang dan lenyap begitu saja, namun Tuhan tetap menyertai dan menunggu kita untuk kembali ingat bahwa Ia-lah yang empunya langit dan bumi beserta segala isinya.

Matius 6 : 33
"Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."

Comments

Popular posts from this blog

68 Years Old Indonesia

John 3:16